Thursday, March 8, 2018

Beijing, China part 2

Hari ketiga :

Pagi itu saya berencana untuk kembali mendatangi Pearl Market,  membeli beberapa oleh-oleh yang kurang. Dari sana langsung menuju Niujie Mosque di daerah muslim street.

Sesampainya ditujuan di bagian depan terdapat tempat penjualan tiket masuk untuk pengunjung non muslim yang ingin melihat-lihat ke dalam area mesjid. Masuk ke area dalam di sebelah kiri terdapat bangunan mesjid berarsitektur budaya China bernuansa merah yang kental berpadu dengan kaligrafi arab disetiap dinding yang terbuat dari kayu.  Ternyata, tempat untuk shalat perempuan dan laki-laki terpisah, tidak berada pada bangunan yang sama. Pada saat melihat-lihat ke dalam mesjid, beberapa orang laki-laki bersiap untuk melaksanakan shalat.  Lalu saya pun berjalan ke arah belakang, karena bangunan mesjid untuk perempuan berada di bagian belakang.

Sambil berjalan ke arah belakang dan melihat ada bangunan lainnya yang saya tidak tahu itu bangunan apa, karena tour guide saya pun baru pertama kali ke sana dan area mesjid yang sepi membuat tidak bisa bertanya-tanya. Ke bagian agak dalam, terdapat dua makam yang berdampingan di bawah sebuah pohon. Makam siapakah itu? Saya pun tidak tahu.. Setelah kembali ke Indonesia saya mencari tahu lewat google dan ternyata itu makam yang dipercaya sebagai makam 2 orang imam asal Persia yang berdakwah di sana. Kenapa saya tidak langsung mencari tahu selama saya di sana? Karena beberapa aplikasi tidak bisa digunakan di China karena memang pemerintahnya menutup aplikasi dari luar negaranya seperti Google, Instagram, Facebook, Line dan mungkin beberapa lainnya. 

Setelah berjalan agak jauh ke belakang, akhirnya saya menemukan area bangunan mesjid khusus perempuan. Areanya agak tertutup. Masuk melalui pintu, barulah bisa melihat keseluruhan bangunan mesjid. Bangunannya hampir sama dengan bangunan mesjid khusus laki-laki yang berada di depan hanya ukurannya lebih kecil. Saya berwudhu di wastafel toilet (karena tidak ada tempat khusus wudhu) dan  melihat beberapa ibu-ibu yang sudah agak tua sedang berwudhu dengan cara seperti itu. Mereka terlihat sangat ramah dengan mengajak saya berbicara, hanya saja saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan membalasnya dengan tersenyum. 

Setelah berwudhu, dan masuk ke dalam bangunan mesjid, adarasa haru tersendiri. Senang rasanya melihat bagian dalam mesjid yang berbeda dari mesjid kebanyakan. Dominasi perpaduan warna merah, biru, hijau berbentuk bunga, hiasan yang tergantung di dinding dalam bentuk kaligrafi di kanan dan kiri, lampu kristal yang tergantung di langit-langit serta dipinggiran terdapat meja dan kursi. Di karpet juga terdapat kain putih untuk pemisah antara saf depan dan belakang yang tidak boleh diinjak. Ada peringatan yang bertuliskan dalam bahasa Melayu, karena kebanyakan pengunjung muslim lainnya berasal dari Malaysia. Saya melihat ibu-ibu yang tadi shalat hanya menggunakan pakaian yang mereka kenakan dan memakai kaus kaki tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang memakai mukena.


Bangunan Mesjid khusus laki-laki




2 Makam Imam dari Persia

Pintu Masuk ke area bangunan Mesjid khusus wanita

Tampak depan bangunan Mesjid khusus wanita


Selesai menunaikan shalat dzuhur di sana, saya makan siang di sebuah restoran di daerah Xie Wang Fu. Makanan hot pot dengan menu daging domba. Rasanya super enak! ga pakai boong 

Saya bersama tour guide, perwakilan perusahaan dan driver


Selesai makan saya diajak untuk menonton pertunjukan akrobat yang disebut Legend of Jinsha di Beijing's Worker Club. Dipintu masuknya dijaga ketat oleh tentara. Untuk tiket masuk VIP pertunjukannya sendiri harganya 680 yen atau sekitar Rp 1.330.000. Tempat duduk VIP letaknya tepat didepan panggung dan menurutku posisinya terlalu dekat. Mungkin akan lebih nyaman kalau duduk di bagian agak tengah, biar keseluruhan panggungnya terlihat lebih jelas. Tapi pertunjukannya sendiri bagus, seru dan sedikit menegangkan.





Hari keempat :

Pagi-pagi sekali saya dan suami sudah di jemput untuk menuju kantor China Construction yang letaknya jauh, jadi jalan diawal pagi juga untuk menghindari macet. Sepanjang perjalanan saya tidur, karena masih ngantuk. Sesampainya di lokasi, kami diperlihatkan rencana pembangunan bandara China yang mungkin akan menjadi paling besar di dunia. Kami diperlihatkan secara detail proses pembangunannya. Setelah dijelaskan di kantor dan berkeliling kantor, kami menuju proyek pembangunan bandaranya yang akan selesai sempurna pada tahun 2019 dengan luas 10.000 hektar. Dan katanya 1 juta rakyat China akan ikut andil dalam pembangunannya. Keren yaa.. 






Setelah selesai berkeliling dan melihat-lihat kami makan siang di sebuah restoran yang menyediakan hot pot. Setiap isinya habis, kembali diisi lagi. Makan sampai benar-benar kenyang. Jadi tidak heran 5 hari saya berada di sana berat saya naik 3 kg. Makanan disana benar-benar sangat enak. 



Selesai makan siang, kami langsung menuju Tiananmen Square. Tiananmen adalah sebuah gerbang dengan atap yang dibuat dengan desain tradisional China yang disebut juga Gerbang Kedamaian Surgawi. Sebelum masuk ke area Tiananmen Square terdapat pos masuk untuk pemeriksaan. Jalan menuju gerbang Tiananmen terdapat taman. Dibagian depan sebelum pintu masuk terdapat jembatan. Dari situ kita melihat sebuah foto besar pendiri RRC yaitu Mao Zedong. Biasanya para pengunjung berfoto dibagian depan. Saya dan suami pun berfoto sebelum masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian ada beberapa orang menghampiri saya. Saya kira mereka meminta saya untuk mengambil foto mereka. Ternyata setelah diterjemahkan oleh tour guide saya, mereka meminta foto bersama saya. Tidak hanya sekali terjadi, tapi beberapa kali. Memang sebelumnya saya pernah mendengar hal itu dari teman saya, yang katanya orang-orang disana tidak terbiasa melihat orang mengenakan hijab. Jadi mereka menganggap itu sesuatu yang langka ditemui di sana. Jadi berasa artis kan. hahahaha



Masuk ke bagian dalam dengan area yang luas kami berjalan menuju ke Forbidden City atau Kota Terlarang. Namun saya kurang beruntung, karena hari itu ditutup jadi pengunjung tidak bisa masuk. Kami pun memilih untuk berfoto menggunakan baju tradisional. Setelah itu kami berjalan keluar menyusuri taman menuju Tiananmen Square yang areanya sangat luas, karena memang terdapat Museum Nasional, Monumen Nasional dan beberapa tempat lainnya yang berada pada area yang sama.

Tiananmen tampak belakang




Forbidden City tampak depan





Mao Zedong Mausoleum merupakan bangunan tempat jenazah pendiri RRC Mao Zedong di awetkan dan ditempatkan pada kotak kaca




National Museum of China



Monument to the people's heroes adalah monumen nasional RRC untuk
para pejuang revolusioner


Dari Tiananmen Square, kami menuju Red Theater untuk menonton pertunjukan Shaolin. Pertunjukannya sangat atraktif dan keren. 




Selesai menonton Shaolin kami menuju Wangfujing Street. Itu merupakan daerah pusat kota yang banyak tempat perbelanjaan dan merupakan tempat terkenal bagi wisatawan. Nah disitu selain banyak pertokoan dengan barang-barang bermerk terdapat satu lorong panjang dengan banyak warung makanan yang disebut Donghuamen Night Market. Di sana tersedia makanan biasa sampai ga biasa. Seperti kalajengking, belalang dan binatang lainnya yang ditusuk seperti sate dan di goreng, serta dijajakan di depan warung-warung mereka. Banyak sekali wisatawan asing yang berkunjung ke sana.




Hari kelima :

Pagi itu saya berencana ke Great Wall atau Tembok Besar China. Dan itu merupakan hari terakhir saya di sana. Tembok China bisa ditempuh melalui beberapa jalur, salah satunya adalah Mu Tian Yu. Di sana kita membayar tiket masuk dan berjalan menuju kendaraan yang akan mengantar kita ke sisi dekat tembok. Sesampai di sisi dekat tembok, saya naik semacam cable car menuju ke atas. Sesampainya diatas, saya harus menaiki anak tangga yang sedikit agak curam sebelum sampai ke Tembok China nya sendiri. Setelah sampai di temboknya saya melihat sendiri panjangnya Tembok China yang ga akan mungkin untuk saya tempuh. 

Di sepanjang jalur Tembok China terdapat pos-pos yang dulu digunakan sebagai tempat penjagaan yang dijaga oleh Tentara. Kita bisa melihat lebih tinggi dari atas pos tersebut. Jalur temboknya juga berkelok dan terdapat anak tangga juga. Jadi kalau mau jalan sepanjang jalur tembok kita juga harus menaiki atau menuruni anak tangga. 

Setelah melihat sekeliling dan puas berfoto, saya turun menuju ke bawah. Turunnya menggunakan kendaraan beroda yang memiliki tuas yang berada di dalam logam seperti perosotan. Seru banget!! Saya kegirangan seperti anak kecil. Walaupun agak serem karena wilayah yang curam, membuat saya berhati-hati supaya tidak keluar jalur. Sesampainya dibawah kami makan siang di sebuah restoran yang berada tidak jauh dari situ. Sebelum pulang kami mendatangi kantor di pintu keluar untuk mendapatkan sertifikat yang menyatakan kita pernah datang ke Tembok Besar China.







Tidak terasa waktu mulai sore. Kami menghabiskan waktu sore itu di daerah Qianmen Street. Daerah itu juga merupakan salah satu destinasi wisatawan yang ramai, juga berada di pusat kota. Berjajar toko-toko yang beraneka ragam.

Dashilan




Arrow Tower

 Dan itulah akhir perjalanan singkat saya di Beijing, China